Buat kita yang berkegiatan di alam, gunung dan hutan mungkin sudah menjadi tempat yang tidak asing. Naik gunung, membaca peta, mencari jalur, belajar survival, sampai latihan SAR menjadi bagian dari proses yang kita jalani. Tapi, semakin sering kita masuk ke alam, seharusnya semakin banyak pula hal yang kita pahami tentang alam itu sendiri.
Bukan cuma soal bagaimana kita bisa sampai ke puncak, tetapi juga tentang bagaimana kondisi gunung dan hutan yang kita datangi. Apa yang sedang terjadi dengan hutannya? Bagaimana kondisi sumber airnya? Apakah jalurnya masih aman? Atau justru ada perubahan yang selama ini tidak kita sadari?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terasa semakin penting setelah pelaksanaan Desk Disaster WALHI Region Sumatera dan Jawa pada 4 Agustus 2026 di kawasan kaki Gunung Gede Pangrango, Bogor. Kegiatan ini menjadi ruang bagi organisasi pecinta alam anggota WALHI dari Jawa dan Sumatera untuk membangun kerja bersama dalam menghadapi persoalan bencana dan krisis ekologis.
Salah satu pesan yang dibawa dalam kegiatan tersebut adalah “Bencana Bukan Takdir.”
Kalimat ini sederhana, tetapi kalau dipikir-pikir, cukup dalam. Selama ini, ketika terjadi banjir, longsor, kekeringan, atau bencana lainnya, kita sering berhenti pada kalimat, “Memang sudah kehendak alam.” Padahal, ada banyak hal yang terjadi sebelum sebuah bencana datang.
Hutan yang berkurang, daerah resapan yang berubah, sungai yang tercemar, tata ruang yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan, hingga berbagai aktivitas manusia dapat membuat sebuah wilayah menjadi lebih rentan terhadap bencana.
Bencana memang dapat dipicu oleh fenomena alam, tetapi dampaknya juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, kerentanan masyarakat, dan bagaimana manusia mengelola ruang hidupnya. Karena itu, membicarakan bencana seharusnya tidak hanya tentang bagaimana mengevakuasi korban ketika bencana sudah terjadi, tetapi juga bagaimana mengenali dan mengurangi risikonya sejak awal.
Selama ini, kita banyak belajar tentang kemampuan teknis. Kita belajar navigasi darat supaya tidak tersesat. Belajar survival supaya mampu bertahan ketika kondisi tidak sesuai rencana. Belajar PPGD dan SAR supaya tahu apa yang harus dilakukan ketika ada kecelakaan atau keadaan darurat.
Namun, bagaimana ketika kita melihat pohon-pohon di lereng mulai berkurang? Apa dampaknya terhadap lingkungan sekitar? Ketika menemukan sumber air yang debitnya berubah, apakah kita pernah bertanya apa yang terjadi di bagian hulu? Ketika menemukan jalur yang rawan longsor, apakah kita hanya menghafal titiknya untuk kepentingan navigasi, atau mencoba memahami mengapa wilayah tersebut menjadi rawan?
Selama ini, kita mungkin menganggap SAR sebagai kegiatan yang dilakukan ketika sudah ada korban. Padahal, kerja-kerja pengurangan risiko bencana bisa dimulai jauh sebelum itu. Dengan mengenali medan, memahami karakteristik lingkungan, memetakan wilayah rawan, dan membangun pengetahuan bersama masyarakat, kita sudah ikut mengambil bagian dalam mengurangi risiko bencana.
Artinya, kemampuan anggota pecinta alam tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan, “Bagaimana cara menyelamatkan orang ketika terjadi bencana?” tetapi juga berkembang menjadi, “Bagaimana memahami risiko dan mengapa risiko itu bisa muncul?”
Karena alam sebenarnya selalu memberikan tanda. Hanya saja, apakah kita mau belajar membacanya?
Sebagai pegiat alam, kita punya kesempatan untuk melihat langsung kondisi gunung dan hutan. Kita bisa menyaksikan perubahan yang mungkin tidak terlihat oleh orang yang jarang masuk ke kawasan tersebut. Dari situlah seharusnya muncul kepedulian, bukan hanya rasa bangga karena sudah mencapai puncak.
Mendaki gunung seharusnya tidak membuat kita merasa telah menaklukkan alam. Justru semakin sering kita masuk ke alam, semakin kita sadar bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari ekosistem yang jauh lebih besar.
Karena itu, kegiatan seperti Desk Disaster menjadi pengingat bahwa organisasi pecinta alam tidak hanya memiliki peran ketika ada kegiatan pendakian atau operasi SAR. Kita juga bisa terlibat dalam memahami persoalan lingkungan, meningkatkan kesiapsiagaan, berbagi pengetahuan dengan masyarakat, serta ikut menjaga ruang hidup yang selama ini menjadi tempat kita berkegiatan.
Gunung bukan sekadar tempat untuk didaki.
Hutan bukan sekadar tempat untuk dilewati.
Dan bencana bukan sekadar sesuatu yang datang tiba-tiba.
SALAM LESTARI!
Pinkan Nessa Salsabila/Sejawat Cepor
NTA:AT.160794.XXX.228.PA
