Gunung Ungaran dan Gunung Telomoyo Bukan Sekadar Sumber Energi
Ketika mendengar kata geotermal, yang sering kita bayangkan adalah energi bersih, energi terbarukan, dan solusi untuk kebutuhan listrik masa depan. Namun, ada pertanyaan yang tidak boleh dilewatkan: di mana energi itu dibangun, bagaimana prosesnya, apa risikonya, dan siapa yang akan menanggung dampaknya?
Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita berbicara tentang rencana pengembangan panas bumi di kawasan Gunung Ungaran dan Gunung Telomoyo, Jawa Tengah. Pemerintah menyatakan pengembangan panas bumi Gunung Ungaran masih berada pada tahap eksplorasi dan studi kelayakan. Tahapan tersebut mencakup pengeboran untuk mengetahui potensi panas bumi di bawah permukaan, dengan kedalaman yang disebut mencapai sekitar 1.900–2.200 meter.
Di tengah proses tersebut, masyarakat dan kelompok lingkungan menyampaikan penolakan serta kekhawatiran. Pada September 2026, Aliansi Semar Gugat menyatakan penolakan terhadap rencana geothermal Gunung Ungaran dan Telomoyo, dengan menyoroti persoalan sumber air, pertanian, lingkungan, ruang hidup, serta kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya.
Lalu, mengapa suara penolakan itu penting?
Karena gunung bukan sekadar tempat yang menyimpan potensi energi. Gunung adalah bagian dari sistem kehidupan. Di dalamnya terdapat hutan, tanah, mata air, lahan pertanian, habitat berbagai makhluk hidup, serta ruang hidup masyarakat yang saling terhubung.
Salah satu persoalan yang paling banyak dipertanyakan adalah air. Kawasan Telomoyo memiliki sistem panas bumi dan berbagai manifestasi seperti mata air panas yang menunjukkan kompleksitas hubungan antara kondisi geologi dan sistem air bawah permukaan. Sementara itu, masyarakat di sekitar kawasan bergantung pada sumber air untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian.
Karena itu, masyarakat berhak mengetahui bagaimana kegiatan eksplorasi akan memengaruhi sistem air, bagaimana risikonya dipantau, dan siapa yang bertanggung jawab apabila muncul dampak terhadap sumber air.
Kita tidak sedang mengatakan bahwa setiap proyek geotermal pasti merusak air. Dampak tersebut harus dibuktikan melalui kajian ilmiah yang spesifik terhadap lokasi. Justru karena itulah kajian, data, dan proses pengambilan keputusan harus transparan serta dapat diakses masyarakat.
Persoalannya juga tidak berhenti pada air. Kegiatan eksplorasi dan pembangunan infrastruktur membutuhkan ruang dan berpotensi memengaruhi kondisi ekologis kawasan. Gunung Ungaran pun memiliki nilai sejarah dan budaya, termasuk kawasan Candi Gedong Songo. Pemerintah sendiri menyatakan bahwa pengembangan panas bumi perlu memperhatikan perlindungan lingkungan dan pelestarian kawasan cagar budaya tersebut.
Dengan demikian, geotermal tidak bisa dilihat hanya sebagai persoalan teknis untuk menghasilkan listrik. Ada pertanyaan tentang air, pertanian, hutan, keanekaragaman hayati, ruang hidup, serta warisan budaya.
Di sinilah pentingnya membedakan antara energi terbarukan dan pembangunan yang otomatis tanpa dampak. Geotermal memang merupakan sumber energi terbarukan, tetapi setiap proyek tetap perlu dinilai berdasarkan lokasi, kondisi ekologis, risiko, serta dampaknya terhadap masyarakat.
Gunung Ungaran dan Telomoyo bukan ruang kosong. Di sana ada masyarakat yang hidup, petani yang bergantung pada tanah dan air, ekosistem yang perlu dijaga, serta warisan sejarah dan budaya yang tidak bisa dinilai hanya dengan angka produksi energi.
Karena itu, menyuarakan “Tolak Geotermal Gunung Ungaran dan Gunung Telomoyo” bukan berarti menolak seluruh bentuk energi terbarukan. Ini adalah sikap untuk mempertanyakan bagaimana pembangunan dilakukan, bagaimana risiko dikendalikan, dan apakah masyarakat benar-benar dilibatkan dalam menentukan masa depan wilayahnya.
Selama proses masih berada dalam tahap eksplorasi dan studi kelayakan, ruang untuk mempertanyakan, mengawasi, dan menyampaikan keberatan masih terbuka. Pemerintah sendiri menyatakan pengembangan dilakukan secara bertahap melalui kajian dan berbagai tahapan perizinan.
Bukan karena kita menolak masa depan, tetapi karena kita ingin memastikan bahwa masa depan tidak dibangun dengan mengorbankan ruang hidup hari ini.
LINDUNGI KAWASAN HUTAN!
JAGA MATA AIR!
SELAMATKAN GUNUNG UNGARAN!
SELAMATKAN GUNUNG TELOMOYO!
TOLAK PEMBANGUNAN YANG MERUSAK LINGKUNGAN!
HIDUP RAKYAT!
HIDUP PEREMPUAN YANG MELAWAN!
SALAM ADIL DAN LESTARI!
TOLAK GEOTERMAL GUNUNG UNGARAN & GUNUNG TELOMOYO.
Karena gunung bukan sekadar sumber energi. Gunung adalah bagian dari kehidupan
Pinkan Nessa Salsabila/Sejawat Cepor
NTA:AT.160794.XXX.228.PA
