Kita sering menyebut Bumi sebagai Ibu Pertiwi, tapi lupa memaknai secara mendalam apa arti “ibu” yang sesungguhnya. Ibu mengandung, melahirkan, merawat, memberi kehidupan—persis seperti Bumi yang memberikan kita tanah subur, air jernih, udara bersih, dan segala yang kita butuhkan untuk hidup. Tapi lihatlah bagaimana kita memperlakukan “Ibu” kita ini—dikeruk, dibongkar, dicemari, dieksploitasi tanpa henti. Dan yang lebih menyedihkan, perlakuan ini ternyata paralel dengan bagaimana sistem patriarki memperlakukan perempuan selama berabad-abad.
Ada benang merah yang menghubungkan penindasan terhadap perempuan dengan perusakan alam. Keduanya dilihat sebagai objek—bukan subjek. Tubuh perempuan dieksploitasi dalam iklan, dijadikan komoditas, dikontrol hak reproduksinya. Sementara Bumi diperlakukan sebagai gudang sumber daya tak terbatas yang bisa dijarah seenaknya. Logika penaklukan yang sama: yang kuat berhak menguasai yang dianggap lemah, yang maskulin berhak mendominasi yang dianggap feminin.
Tapi ekofeminisme datang membawa pencerahan. Ini bukan sekadar teori akademis, melainkan pisau analisis yang tajam untuk memahami bagaimana sistem opresi bekerja saling terkait. Ekofeminisme mengajarkan bahwa kita tidak bisa memisahkan perjuangan melawan seksisme dari perjuangan melawan perusakan lingkungan. Ketika kita membiarkan perusahaan tambang merampas tanah masyarakat adat, kita juga membiarkan perempuan-perempuan di komunitas itu kehilangan sumber air bersih, kehilangan tanaman obat, kehilangan ruang hidup yang selama ini mereka rawat.
Lihatlah bagaimana dalam banyak budaya, perempuanlah yang paling merasakan dampak kerusakan lingkungan. Merekalah yang harus berjalan lebih jauh mencari air saat mata air mengering. Merekalah yang kesulitan mencari kayu bakar saat hutan gundul. Merekalah yang kesehatan reproduksinya terancam oleh pencemaran air dan udara. Tapi ironisnya, justru perempuan-perempuan inilah yang sering kali paling gigih mempertahankan lingkungan—seperti Ibu Aleta Baun dengan tenunnya yang mempertahankan gunung batu dari perusakan, atau perempuan-perempuan Kendeng yang mengecor kaki mereka demi menyelamatkan sumber air.
Ini bukan kebetulan. Perempuan, melalui pengalaman sosial dan budayanya, sering kali mengembangkan apa yang disebut sebagai “politik empati”—sebuah cara berhubungan dengan dunia yang didasarkan pada perawatan, keterhubungan, dan tanggung jawab. Sementara sistem patriarki-kapitalis mengajarkan kompetisi, individualisme, dan dominasi, politik empati menawarkan alternatif: kolaborasi, komunitas, dan regenerasi.
Tapi jangan salah—politik empati bukanlah kelemahan. Justru inilah kekuatan yang bisa meluluhlantakkan logika kekerasan sistemik. Ketika perempuan-perempuan di sebuah desa berdiri bergandengan tangan menghalangi buldoser, mereka sedang mempraktikkan politik empati sebagai senjata. Ketika ibu-ibu kota mengorganisir komunitas untuk mengelola sampah secara mandiri, mereka sedang membangun alternatif dari politik empati.
Kita semua, laki-laki dan perempuan, perlu belajar dari cara perempuan memandang dunia. Bukan berarti semua perempuan otomatis memiliki kesadaran ekofeminis, tapi pengalaman sebagai kelompok yang tertindas memberikan perspektif unik untuk memahami bagaimana sistem opresi bekerja—dan bagaimana melawannya.
Ekofeminisme mengajak kita untuk membayangkan ulang hubungan kita dengan alam—dari hubungan penaklukan menjadi hubungan pemeliharaan, dari hubungan eksploitasi menjadi hubungan timbal balik, dari hubungan dominasi menjadi hubungan kesetaraan. Ini adalah revolusi hubungan—revolusi yang dimulai dari cara kita memperlakukan tanah, air, udara, tumbuhan, hewan, dan tentu saja, sesama manusia.
Maka, membebaskan Bumi adalah tindakan feminis. Dan membebaskan perempuan adalah tindakan ekologis. Keduanya adalah perjuangan yang tak terpisahkan. Ketika kita mempertahankan hutan dari perambahan, kita juga mempertahankan hak perempuan atas kehidupan yang layak. Ketika kita memperjuangkan kesetaraan gender, kita juga memperjuangkan cara berelasi dengan alam yang lebih adil.
Sistem saat ini membunuh dua kali: membunuh perempuan dengan patriarki, dan membunuh Bumi dengan kapitalisme. Lawannya juga harus dua kali: feminisme yang ekologis, dan gerakan lingkungan yang feminis.
Kita harus berani menyatakan: Bumi adalah perempuan. Dan perempuan adalah Bumi. Merusak satu berarti merusak yang lain. Membela satu berarti membela yang lain. Inilah kebenaran sederhana yang harus kita pegang teguh dalam setiap tindakan perlawanan kita.
Mari kita rawat Ibu Pertiwi seperti kita merawat ibu kandung kita sendiri. Mari kita hormati perempuan seperti kita menghormati Bumi yang memberi kehidupan. Karena hanya dengan mengembalikan martabat perempuan dan Bumi, kita bisa benar-benar membangun peradaban yang adil dan berkelanjutan.
Rio Kurniawan (Sejawat Soja)
NTA: AT.160794.XXV.194.PA
