Lompat ke konten

Ekologi Revolusioner

Kita telah terlalu lama terjebak dalam narasi lingkungan yang dipoles—seolah-olah menyelamatkan bumi cukup dengan memilah sampah, menggunakan sedotan stainless steel, dan membawa tas belanja sendiri. Mereka ingin kita percaya bahwa krisis ekologi adalah masalah individu, bahwa pemanasan global bisa diatasi jika setiap orang mengurangi jejak karbonnya. Ini adalah kebohongan terbesar abad ini—sebuah strategi untuk mengalihkan tanggung jawab dari pelaku sebenarnya: sistem kapitalis yang haus sumber daya.

Lihatlah fakta yang mereka sembunyikan. Perusahaan-perusahaan multinasional dengan leluasa mengeruk tambang, membabat hutan, dan mencemari sungai—sementara kita disuruh merasa bersalah karena menggunakan sedotan plastik. Mereka menghasilkan 70% polusi global, tapi berhasil melempar bola ke lapangan kita. Ini bukan sekadar krisis lingkungan—ini adalah krisis keadilan. Polusi udara, banjir, kekeringan—semua dampak ini paling keras dirasakan oleh mereka yang tidak punya pilihan untuk pindah ke kawasan hijau nan asri. Buruh pabrik yang harus menghirup udara tercemar setiap hari, nelayan yang kehilangan mata pencaharian karena laut tercemar, petani yang gagal panen karena iklim tak menentu—mereka adalah korban pertama sistem yang memprioritaskan profit di atas kehidupan.

Tapi ada kebenaran yang lebih dalam yang harus kita hadapi: perusakan alam dan penindasan manusia adalah dua sisi dari koin yang sama. Logika yang sama yang membenarkan eksploitasi buruh juga digunakan untuk membenarkan perusakan hutan. Logika yang sama yang merendahkan perempuan dan kelompok marginal juga memperlakukan bumi sebagai objek untuk dikuasai. Inilah mengapa gerakan lingkungan yang sesungguhnya harus revolusioner—harus berani menantang akar masalahnya, bukan hanya bereaksi pada gejalanya.

Ekologi revolusioner bukan sekadar tentang menyelamatkan pohon atau mengurangi emisi. Ini adalah perjuangan kelas dalam wujudnya yang paling nyata. Ketika masyarakat adat mempertahankan hutan dari tambang, itu adalah perjuangan kelas. Ketika petani menolak alih fungsi lahan, itu adalah perjuangan kelas. Ketika komunitas urban merebut ruang hijau dari proyek properti, itu adalah perjuangan kelas. Mereka yang dirampas haknya atas tanah, udara bersih, dan air bersih—adalah kelas yang sama yang dieksploitasi tenaganya di pabrik-pabrik.

Kita telah menyaksikan bagaimana sistem ini dengan licik mengkooptasi bahasa perlawanan kita. Perusahaan-perusahaan perusak lingkungan kini ramai-ramai mengampanyekan “green economy“, “sustainable development“, dan berbagai istilah hijau lainnya. Tapi jangan tertipu—ini hanyalah greenwashing, strategi untuk melanjutkan business as usual dengan wajah yang lebih ramah. Mereka ingin kita percaya bahwa kapitalisme bisa menjadi hijau, bahwa pertumbuhan ekonomi tak terbatas bisa berdamai dengan kelestarian alam. Ini mustahil—bagaikan mencoba mengajarkan singa menjadi vegetarian.

Lalu apa alternatifnya? Ekologi revolusioner menawarkan visi yang radikal: masyarakat yang tidak menganggap alam sebagai komoditas, tetapi sebagai komunitas yang harus dijaga. Ekonomi yang tidak mengejar pertumbuhan tanpa batas, tetapi kesejahteraan ekologis. Sistem yang tidak berpusat pada akumulasi kapital, tetapi pada regenerasi kehidupan.

Ini bukan utopia. Di seluruh pelosok negeri, benih-benih ekologi revolusioner sudah bertumbuh. Koperasi tani yang menerapkan pertanian organik, komunitas yang mengelola hutan adat, kelompok urban farming yang mentransformasi lahan terlantar menjadi kebun produktif—semua ini adalah praktik nyata dari ekologi revolusioner. Mereka tidak menunggu kebijakan dari atas, tidak berharap pada perusahaan-perusahaan hijau—mereka menciptakan alternatif dari bawah.

Tapi perjuangan ini tidak mudah. Mereka yang berkuasa akan menggunakan segala cara untuk mempertahankan sistem yang menguntungkan mereka—dari kriminalisasi aktivis lingkungan, pembuatan kebijakan yang pro-investor perusak, hingga propaganda yang menyudutkan gerakan lingkungan sebagai anti-pembangunan.

Kita harus memilih pihak. Tidak ada netral dalam perang antara kehidupan dan akumulasi modal. Setiap kali kita diam melihat hutan dibabat, setiap kali kita acuh pada pencemaran sungai, setiap kali kita membeli produk perusahaan perusak—kita sebenarnya memilih pihak pada sistem yang sedang membunuh bumi perlahan-lahan.

Ekologi revolusioner mengajarkan bahwa menyelamatkan lingkungan bukanlah tindakan karitatif, melainkan tindakan pembebasan. Membela bumi berarti membela hak hidup masyarakat yang bergantung padanya. Melawan perusakan lingkungan berarti melawan sistem yang menindas.

Waktunya telah tiba untuk berhenti menjadi hijau yang hanya di permukaan. Kita harus menjadi merah di hati—berani menantang sistem sampai ke akarnya. Kita harus menjadi hijau dalam tindakan—konsisten membangun alternatif di tingkat akar rumput.

Inilah manifesto hijau kita: tidak ada keadilan ekologis tanpa keadilan sosial. Tidak ada penyelamatan bumi tanpa revolusi sistemik. Tidak ada masa depan yang layak tanpa keberanian untuk menciptakannya hari ini.

Mereka mungkin menyebut kita radikal. Tapi dalam dunia yang sedang sekarat, menjadi moderat adalah bentuk pengkhianatan tertinggi.

 

Rio Kurniawan (Sejawat Soja)

NTA: AT.160794.XXV.194.PA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *